Satu Lagi Tulisan yang Bikin Saya Muak
Besar di lingkungan pers kampus, saya banyak dipertemukan dengan orang-orang yang hobi mikir. Ditambah dengan ideologi UKM yang bernafas pergerakan, aktivitas mikir itu kebanyakan berisi perlawanan dan kritik atas pemangku kebijakan. Selanjutnya, tentu saja hasil mikir itu berakhir jadi tulisan di laman, perkara ada yang ngajak "ngopi" atau di-repost sama Badan Eeksekutif Mahasiswa itu perkara belakangan.
Namun saya kadang agak jengah, terutama pada konstruksi berpikir teman-teman yang cenderung "whataboutism". Sesuai namanya, what-about-ism adalah sebuah teknik argumentasi yang membelokkan fokus suatu fakta dengan mengarahkannya pada hal lain.
Tulisan kawan saya yang baru saja terbit di laman kali ini juga tak lepas dari nuansa whataboutism. Dimulai dengan pembahasan mengenai kehadiran timnas Argentina ke Indonesia dan dilanjutkan dengan nyinggung tragedi Kanjuruhan yang tertangani dengan buruk dan protas-protes bahwa FIFA Matchday itu tak sepatutnya diadakan karena Kanjuruhan belum selesai (langsung Aremania luwh bjir). Strukturnya sama, ada kejadian-lalu dilanjutkan dengan what about other circumstance.
Bagi saya ini sungguh nggateli, bahkan artikel di terminal Mojok tempo hari yang secara petantang-petenteng mengatakan ranking timnas bakal terganggu dengan melawan timnas Argentina terdengar lebih bijak untuk dibaca.
Saya sebenarnya maklum bahwa tulisan ini sebetulnya adalah riding the wave yang memanfaatkan momen FIFA Matchday di pertengahan Juli mendatang. Namun, seperti tentara Belanda yang membonceng NICA atau para begajulan di demo yang hadir untuk mencipta keributan lain, kehadiran tulisan ini lebih memperkeruh suasana dan nuansa yang dibawa pun cenderung basi.
Ada hal-hal baik lain yang sesungguhnya diterima oleh kehadiran timnas Argentina. Seperti pengalaman bagi para pemain dan sebuah momen untuk mengukur kemampuan sesungguhnya timnas Indonesia versi skuad penuh bila hendak berkontestasi di pentas dunia (mengingat ada harapan untuk masuk ke edisi 2026 nanti). Aspek entertainment juga tidak sebejat itu dan pada akhirnya bisa dijadikan sebagai bentuk moril kebahagiaan kepada para penonton dan football family. Bila dibilang lebih baik membangun infrastuktur dan lain sebagainya ya itu hal lain yang juga dapat dikerjakan beriringan dan lagi-lagi itu adalah sebuah whataboutism yang nggateli.
Selain itu, seperti yang sudah saya singgung, narasi Kanjuruhan itu pembawaanya cenderung basi dan itu-itu saja. Lagi-lagi kita kembali kepada titik soal para pelaku yang tak diganjar setimpal, itu saja. Isu lain seperti Aremania yang menyulut "api kericuhan" dan secara terang-terangan sesumbar mempersoalkan harga diri itu juga tak pernah diungkit, seolah mereka adalah kaum marjinal yang hanya pantas dirangkul dan lagi-lagi aparat yang boleh dipersoalkan.
The Police Were Fucked Up, But Supporters Weren't The Saint Either.
Kanjuruhan memang merupakan tragedi. Namun tak lantas dalam mengawalnya, segala hal breakthrough lain yang coba dikerjakan di lingkungan sepak bola dibatasi dengan dalih bahwa pengusutan Kanjuruhan belumlah selesai. Haruskah kita berduka di sembarang tempat dan memandang sinis pada segala upaya bahagia lain?
Biarpun masalah selalu menyelimuti Sepak Bola Indonesia dan banyak orang (termasuk si penulis dalam hal ini) yang mencacinya sebagai sampah dan berpaling kepada pertandingan Eropa sebagai hiburan, tapi sepak bola Indonesia bukan barang najis yang tak pantas untuk diinjak mereka yang masih berstatus sebagai manusia.
Sepak bola Indonesia bukan hanya ruang duka dan caci maki semata. Ia juga berhak untuk bangkit ketika jatuh, seberapa dalam pun itu.
Komentar
Posting Komentar